Skip to main content

#Day 10: Renungan di Pagi Hari

Kita atau mungkin hanya saya, sebagai manusia, sudah seharusnya memperluas wadah dalam jiwa kita, untuk masuknya ilmu-ilmu baru, untuk tidak pernah berhenti belajar. Haus akan ilmu. Karena, meungkin, tidak semua pengetahuan yang kita miliki (saat ini) dapat menolong di saat yang dibutuhkan. Di saat-saat seperti itulah dibutuhkan sebuah kearifan, kerendahan hati, untuk menyadari dan mengambil hikmah dari setiap ketidaktahuan yang kita miliki guna memperbaiki diri menjadi manusia yang lebih baik lagi.

Renungan, pada pagi yang masih mentah.




Comments

orange lover! said…
Dan dari belajar pula kita dapat memandang suatu permasalahan tidak hanya dari satu sisi namun berbagai sisi yang tidak kita pikirkan sebelumnya..
the trouble said…
Kadang aku ngerasa otak ini belum cukup upgrade-an untuk siap untuk menangkap sesuatu yang lebih besar. Payah!
Mariya said…
Hahahaha...makanya uki kalo punya kepala tuh jangan dibikin jadi mangkok.

Popular posts from this blog

Jadikan Aku yang Kedua!

"Jadikan aku yang kedua... Buatlah diriku bahagia..." Lirik lagu Astrid ini tetiba terngiang-ngiang saat saya membaca status FB (anonim) yang di-share oleh teman saya. Baca deh... dan buat Ibu-Ibu yang anti poligami siap-siap geregetan yaaa... Terlepas ini postingan siapa, anonim sekalipun, saya cuma mau bilang, ke pasar gih Mbak, beli ketimun yang banyak. Oppss!! Sorry terdengar tidak senonoh dan hardcore yaaa, gimana nggak, kata-kata yang tertulis dalam statusnya juga seputar itu kan? "kenapa hanya tidur dipelukan satu istri saja?" Hey, menjadi seorang imam itu bukan hanya masalah di tempat tidur, dan statement itu lebih kepada nafsu bukan sunnah. Oke well, masalah nafsu, birahi, itu manusiawi dan sesuatu fitrah, jikaaa... hanya jika disampaikan dengan cara yang fitrah juga. Nafsu yang seperti ini selalu dikaitkan dengan sunnah, padahal (cmiiw, sunnah Nabi yang lain itu banyak keleeuuss, kalau memang tujuannya adalah mengikuti sunnah Nabi). Berpoligami t...

Pembuktian

Dear Taylor, Saya pernah begitu "young and naive" di fase-fase usia saya yang masih 20-25 tahun, saya selalu ingin membuktikan pada orang-orang di sekeliling saya bahwa saya bisa dan mampu. Bahwa saya juga pintar, bahwa saya juga diperhitungkan. Pada masa-masa itu saya seringkali sadar kalau saya sedang menggunakan topeng, topeng "bisa" topeng "sok pintar" topeng "berani" dan topeng-topeng lainnya. Saya sadar saya memakainya dan saya merasa kelelahan. Lama-kelamaan topengnya terasa begitu berat mencengkram wajah asli saya, sehingga saya tak lagi mengenali siapa saya sebenarnya dan apa yang saya mau. Selalu yang ada dipikiran saya saat itu adalah apa saya melakukannya dengan baik, atau apakah saya berhasil mendapatkan sesuatu yang orang anggap itu adalah hal yang bagus, apakah jika saya begini begitu sikap saya dapat diterima?  Lagi-dan lagi yang saya pikirkan selalu adalah pendapat orang lain, saya telah jahat pada diri saya sendiri dengan tidak ...