Skip to main content

Posts

Showing posts from September, 2010

Episode Daun

Tunggu episode daun selanjutnya. Orang-orang, rekan, tetangga, sahabat pena (udah gak jamannya pena lagi, maksud saya sahabat maya, temen chat), hingga orang yang saya kenal di jalan, dan mereka yang berkesan di hati saya, akan saya sandingkan dengan daun-daun yang menggores cerita kecil di benak saya. Thank u all ;) `cerita ngecapruk dari seorang Dessy`

Daun (2)

Daun daun pohon mangga itu bergoyang. Tidak… Bukan karena ada angin kencang yang meniupnya, tapi ada seekor camar hinggap di da hannya. Letih, ia mencengkramkan kaki-kakinya pada dahan berdaun itu. Daun-daun gemerisik berbisik satu sama lain. Apa yang membuatnya kesini? Tanya daun yang satu pada daun yang lainnya. Entahlah… Mengapa ia tak berkerumun seperti camar lainnya? Bermigrasi bersama-sama, berk elompok, bergumul seperti kita? Camar menengadahkan mukanya menatap semesta terang di sana. Berisik gemerisik di sini…. Batinnya. Ia hanya ingin beristirahat lalu kemudian melanjutkan lagi perjalanannya. Mereka… Mereka telah salah. Bukan hanya Elang yang mampu terbang tinggi walau sendiri, akupun mampu, bisik Camar pada gemerisik berisik daun. Ia hendak terbang… Ancang-ancangnya membuat daun pohon mangga itu bergoyang lagi meski tak ada angin yang meniupnya. ~best regard to Jieb Man~

Daun

Daun mangga yang telah kuning itu terjatuh. Rantingnya sedikit bergoyang, ia kikuk. Daun itu melayang, menyentuh centil kepala seorang gadis yang duduk di bawahnya. Lalu melayang lagi. Gadis itu tersenyum, kuning warna favoritnya. Ia hanya tersenyum. Warna kuning itu menyentuh tanah dekat dengan kaki gadis yang tersenyum itu. Ia bangun berdiri. Kakinya santai menginjak pucuknya lalu pergi… Ia memilih ilalang di ujung sana. Daun telah mati, namun setidaknya ia telah juga tersenyum bisa membelai kepala sang gadis yang penuh senyum pada seperdetik sisa hidupnya. ~Buat si Mai Roza yang suka warna kuning dan tersenyum~

Feeling of the Venusians

I still remember a proverb I used to attach on my essay in the topic of feminism (specifically, in Ms. Lian's class). It says that men and women come from different planets, men are from Mars and women are from Venus. It looks like it states that men and women are different. Well yeah, undeniable, they are. Physically, yes of course they're not the same, and mentally, I guess it's so. But wait up!! I won't talk about gender or feminism here or simply about the difference about men and women. I just wanna tell u how different men and women to see their worlds are. Most of the Martians use their mind and brain, otherwise the Venusians are completely involving their heart and feeling to face up any probs they have in their lives. It makes any confusing and complex situation while Venusians (let me include: myself, me, and I) entangle their heart and feeling in any problem they have. That's what women are. When they find that things don't go on their way, the impuls

What a Bigotry

Lihatlah warna pelangi sehabis hujan, indah bukan? Pelangi indah karena mempunyai warna-warna yang berbeda, menyatu meski polikromatik. Begitulah seharusnya hidup, penuh dengan perbedaan. Juga bagi saya, hidup adalah bagaimana kita berhadapan dengan perbedaan. Perbedaan agama, ras, golongan, budaya, gender, dan lain sebagainya. Dan janganlah malu jika harus mengakui bahwa kita berbeda, dan jangan pula melihat perbedaan tersebut sebagai penghalang. Seperti warna pelangi itu, perbedaan seharusnya kita lihat sebagai suatu anugerah yang Tuhan berikan kepada makhluk-Nya, sesuatu yang seharusnya disyukuri dan dinikmati untuk kemaslahatan bersama, saling melengkapi, bukan sebagai sarana untuk saling membenci, karena sungguh, yang seperti itulah yang justru kufur terhadap nikmat Tuhan. Kita memang tersusun dari komponen-komponen yang berbeda, lantas ada pertanyaan muncul. Mana yang lebih baik dari yang lain, mana yang lebih benar dari yang lain dan sebagainya. Suatu kebodohan dari pikiran yan