Skip to main content

Posts

On the Pleasure of Hating

An essay by, William Hazlitt The pleasure of hating, like a poisonous mineral, eats into the heart of religion, and turns it to rankling spleen and bigotry; it makes patriotism an excuse for carrying fire, pestilence, and famine into other lands: it leaves to virtue nothing but the spirit of censoriousness, and a narrow, jealous, inquisitorial watchfulness over the actions and motives of others. What have the different sects, creeds, doctrines in religion been but so many pretexts set up for men to wrangle, to quarrel, to tear one another in pieces about , like a target as a mark to shoot at? Does any one suppose that the love of country in an Englishman implies any friendly feeling or disposition to serve another bearing the same name? No, it means only hatred to the French or the inhabitants of any other country that we happen to be at war with for the time. Does the love of virtue denote any wish to discover or amend our own faults? No, but it atones for an obstinate adherence to ou...

Bilang Saja “Iya”

Apakah kamu selalu merasa resah setiap kali dalam benakmu muncul pertanyaan-pertanyaan tentang dirimu dan dunia di sekelilingmu yang tak pernah bisa kamu jawab? Atau apakah kamu juga merasa gelisah tak karuan ketika tiba-tiba saja muncul sesosok makhluk didepanmu bernama kenyataan yang harus kamu hadapi meski tidak sesuai dengan yang kamu harapkan? Pernahkah kamu merasa bingung, dan disoriented seperti ketika kamu terbangun dari mimpi indah dan harus melepaskan semua mimpi itu di alam monster berjudul kenyataan? Atau kamu pernah merasa seperti orang yang tidak berguna ketika pertama kalinya kamu bersalaman dengan tanggung jawab yangdulu sangat kamu hindari? Apakah kamu pernah merasakan ini: ketika kamu berjalan di sepanjang trotoar sehabis pulang kerja, kamu bertanya-tanya, siapakah yang mencuri waktu, sehingga waktu terasa melesat begitu cepat? Atau, apakah kamu bingung ketika di depanmu terhampar seribu pintu dan seribu jendela yang meminta kamu pilih, namun ketika kamu telah memil...

Teropong dan Cermin

Kebanyakan orang sekarang lebih suka menggunakan teropong ketimbang melihat cermin. Kenapa? Karena dengan cermin orang bisa melihat dirinya sendiri, meski tak utuh namun orang bisa melihat wajahnya yang bertopeng atau tidak, tersenyum atau menyeringai, mata bersorot kebencian atau kebohongan. Semua dapat dilihat sendiri, bhakan mereka dapat melihat kekuragan-kekurangan maupun kesalahan-kesalahan mereka sendiri. Dan SEHARUSNYA mereka memahami akan kesalahan-kesalahan dan kekurangan mereka. Tapi nampaknya orang-orang lebih memilih teropong. Kenapa? Jika melihat dengan teropong, maka yang terlihat adalah image orang lain. Setiap detil gerak maupun ucapan orang lain tersebut diperhatikan dan dipelajari dengan seksama dan di rekam secara utuh. Kemudian mereka--si pengguna teropong--akan menyimpulkan hasil pengamatan itu dengan istilah "baik" dan "buruk". Lalu mereka mulai mempergunjingkan baik itu nilai "baik" dan "buruk" (meski kebanyakan yang ...

The Reader: a Slight View of Banality of Evil

Saya akan membahas tentang banality of evil lagi (duduk yang manis dan jangan bosan ya). Namun kali ini sepenggal banality of evil yang ada pada sebuah film, film yang telah lama sekali saya beli dan baru saya tonton beberapa waktu yang lalu. Judulnya The Reader . Film yang di sutradarai oleh Stephen Daldry (2008) ini merupakan adaptasi dari novel berjudul sama karangan Bernhard Schlink yang terbit pada tahun 1995. Sesuai dengan judulnya, dalam film berdurasi 124 menit ini kita akan disuguhkan oleh pembacaan-pembacaan karya sastra dan juga dialog yang panjang. Film ini bercerita tentang seb uah drama cinta terlarang seorang remaja pria dengan wanita yang umurnya jauh lebih tua darinya. Michael Berg (David Kross) dan Hannah Schimtz (Kate Winslet) terlibat dalam romantika cinta yang tak biasa. Berg yang masih duduk di bangku sekolah mencintai Schimtz seorang kondektur kereta api yang selalu ia temui secara diam-diam sepulang sekolah. Yang menurut saya unik dari kisah cinta Berg dan Sc...

Kloset atau Diary?

Beberapa minggu yang lalu saya mengeluarkan isi lemari buku saya demi mencari sebuah novel yang saya lupa meletakkannya dimana, hingga pada akhirnya setelah dengan seenaknya saya menghamburkan buku-buku koleksi saya di atas kasur, barulah saya ingat bahwa novel yang saya ca ri terselip di lemari pakaian (Loh, kok bisa? entahlah) Dari pencarian tersebut, saya menemukan sebuah buku usang, warnanya telah berubah coklat dan saya telah hampir saja melupakan keberadaan buku tersebut. Itu adalah buku diary saya. Catatan harian yang setia menjadi tempat sampah bagi keseharian dan perasaan saya yang absurd. Sebelum akhirnya saya lebih mencintai blog ketimbang buku harian tersebut. Saya memang sangat menyukai diary atau apapun yang bisa merekam kehidupan saya dan membuatnya menjadi abadi. Segalanya saya tulis di sana, perasaan saya, kengerian saya, aktivitas saya, apapun. Lalu apa yang terjadi setelahnya, saya buka kembali lembaran-lembaran usang tersebut, dan membacanya tentu saja. Well, rasan...

Dari #Dearmen

Dear Man, These are some funny things about girl that man should know if he wants to make his girl happy with him. (LOL) I found it on Twitter Trending Topic about #Dearman. #Dearmen , When your girl says “I love you”, She means it. #Dearmen , surprise her. Do things that make her smile, make her laugh, and make her want to kiss you right on the face. #Dearmen , When she's sad or sick, hang out with her or stay on the phone with her, even if shes not saying anything. #Dearmen , Leave her little unexpected notes. (Even if in the Twitter DM) saying how much she means to you. #Dearmen , Call her even if it's just to say hi. Call her back if she calls you.It means a lot to her. #Dearmen , Be spontaneous! When she starts yelling at you, listen to her and remember why you upset her so next time you won't. #Dearmen , Walk with her, even if its just around the block. #Dearmen , Take her to the library,playgrounds, and coffee shops. Tell her stupid jokes, whatever it ta...