Skip to main content

Sebuah Keberadaan

Pagi yang basah di bulan Oktober penuh hujan ini saya melamun dengan wajah ditekuk dan murung dalam sebuah angkot menunggu macet dan mensublimasi asap-asap kendaraan bermotor yang congkak itu. Dalam lamunan seperti biasa, I wonder. I'm wondering about my existence. I do always.

Saya selalu bertanya tentang eksistensi saya, keberadaan saya di "sini" tujuan saya hidup. Untuk apa sebenarnya? Apa yang saya kejar, atau apa yang mengejar saya, hingga saya harus berlari.

Dalam keadaan skeptic yang bengong itu saya terus mencari, atau menunggu jawaban apa untuk pertanyaan-pertanyaan dari pikiran saya yang sangat semrawut.

Saya melihat dari jendela angkot keadaan di sekeliling saya. Banyak tukang ojeg, berebut penumpang ingin mendulang keuntungan di tengah macet. Ada juga penjaga lintasan rel kereta api yang tanpa palang pintu otomatis di salah satu sudut kota ini. Para pengamen cilik yang sudah bekerja di pagi buta, pemuda tukang sampah yang mendorong gerobak sampah nan bau apek dan anyir, juga para tukang sapu jalanan. Mereka masih bisa tersenyum.

Melihat itu semua haruskah saya terus menerus mempertanyakan eksistensi saya, keberadaan saya, bagaimana dengan mereka?

Saya seperti ditampar bertubi-tubi, karena futur nikmat.

Saya telah lupa sesuatu. Saya lupa bahwa keberadaan seorang "saya" atau kita bukanlah suatu ketidaksengajaan, bukanlah suatu kebetulan belaka. Setiap kita adalah partikel penting dalam kehidupan. Tak ada yang diciptakan Tuhan hanya untuk kesia-siaan. You know what, without this little particle, something will be missing in existence and nobody will be able to replace it. Itulah yang membuat kita bermartabat sebagai makhluk kerdil berakal ciptaan Tuhan. Tanpa kita, everything in the universe; the sun, stars, moon, trees, birds, flowers, earth will feel a small place vacant which can't be filled by anybody except us.

Alhamdulillah…

Then, it gave me a tremendous joy in that chaotic morning traffic. It blew to me a fulfillment that I am related to existence, and I feel my existence cares for me.

Then, on those sparkle full-of-spirit people I can see the tremendous love falling from all dimensions.

Comments

Popular posts from this blog

Jadikan Aku yang Kedua!

"Jadikan aku yang kedua... Buatlah diriku bahagia..." Lirik lagu Astrid ini tetiba terngiang-ngiang saat saya membaca status FB (anonim) yang di-share oleh teman saya. Baca deh... dan buat Ibu-Ibu yang anti poligami siap-siap geregetan yaaa... Terlepas ini postingan siapa, anonim sekalipun, saya cuma mau bilang, ke pasar gih Mbak, beli ketimun yang banyak. Oppss!! Sorry terdengar tidak senonoh dan hardcore yaaa, gimana nggak, kata-kata yang tertulis dalam statusnya juga seputar itu kan? "kenapa hanya tidur dipelukan satu istri saja?" Hey, menjadi seorang imam itu bukan hanya masalah di tempat tidur, dan statement itu lebih kepada nafsu bukan sunnah. Oke well, masalah nafsu, birahi, itu manusiawi dan sesuatu fitrah, jikaaa... hanya jika disampaikan dengan cara yang fitrah juga. Nafsu yang seperti ini selalu dikaitkan dengan sunnah, padahal (cmiiw, sunnah Nabi yang lain itu banyak keleeuuss, kalau memang tujuannya adalah mengikuti sunnah Nabi). Berpoligami t...

#Day 20: STFO

This is the story about four people named Everybody, Somebody, Anybody, and Nobody. There was an important job to be done. And Everybody was sure that Somebody would do it. Anybody could have done it, but Nobody did it. Somebody got angry about this because it was Everybody's job. Everybody thought that Anybody could do it,  but Nobody realized that Everybody wouldn't do it. It will end up that Everybody blamed Somebody when Nobody did what Anybody could have done. End. Guys, I believe that these four people are surround you, everywhere you are; at office especially, in a team work definitely, or probably at class. You know it sucks. Because yes, it sucks. Whoever you are; Everybody, Somebody, Anybody, or Nobody, please STFO and do your own job.   *Image from "The Office" movie Illustration