Skip to main content

Posts

Jadikan Aku yang Kedua!

"Jadikan aku yang kedua... Buatlah diriku bahagia..." Lirik lagu Astrid ini tetiba terngiang-ngiang saat saya membaca status FB (anonim) yang di-share oleh teman saya. Baca deh... dan buat Ibu-Ibu yang anti poligami siap-siap geregetan yaaa... Terlepas ini postingan siapa, anonim sekalipun, saya cuma mau bilang, ke pasar gih Mbak, beli ketimun yang banyak. Oppss!! Sorry terdengar tidak senonoh dan hardcore yaaa, gimana nggak, kata-kata yang tertulis dalam statusnya juga seputar itu kan? "kenapa hanya tidur dipelukan satu istri saja?" Hey, menjadi seorang imam itu bukan hanya masalah di tempat tidur, dan statement itu lebih kepada nafsu bukan sunnah. Oke well, masalah nafsu, birahi, itu manusiawi dan sesuatu fitrah, jikaaa... hanya jika disampaikan dengan cara yang fitrah juga. Nafsu yang seperti ini selalu dikaitkan dengan sunnah, padahal (cmiiw, sunnah Nabi yang lain itu banyak keleeuuss, kalau memang tujuannya adalah mengikuti sunnah Nabi). Berpoligami t...

Berhenti Kerja

Saya ingin berhenti bekerja. Keinginan ini tercetus saat saya mendapati diri saya hamil anak kedua beberapa minggu lalu. Saya stress dengan ritme kerja saya, saya merasa letih dan selalu kecapekan dengan rute rumah - kantor - rumah yang memang tidak dekat, belum lagi kendaraan umum yang tidak dapat dijamin kenyamanannya. Beberapa hari saya stress, menangis ketika hendak berangkat kerja karena mendapati Mikhail (anak pertama saya) belum bangun tidur -fyi, saya harus berangkat kerja jam 5 pagi- dan sedih ketika sampai rumah Mik sudah keburu tidur. Stress dan kelelahan saya ini mengakibatkan saya harus mengeluarkan flek beberapa kali dan ketika di USG oleh dokter SpOG hasilnya kurang bagus dan membuat saya menitikan air mata lagi. Saya cuma ingin bayi saya sehat dan terhindar dari stress yang saya rasakan. Beberapa hari setelah itu saya merajuk pada suami saya untuk mengabulkan keinginan saya untuk resign. Beruntung saya mempunyai suami yang begitu pengertian. Saya tahu dengan menyetuj...

Kamu

Hai kamu... Bisakah kamu hidup normal seperti para manusia pada umumnya, seperti wanita kebanyakan? Bisakah kamu melupakan dan move on..? Bisakah hidupmu tidak melulu dipenuhi pikiran tentang dia dan imaji tentangnya di masa lalu...? Bisakah kamu move on?? Bisakah??? Tolong lupakan dia dan tidak menjejali hidupmu akan penyesalan dan tuntutan atas sesuatu yang TIDAK dilakukannya. Bisakah kamu sedikit berpikir, bahwa ada orang terganggu atas semua ratapan kamu, dan itu adalah saya... Bisakah kamu sadari orang yang selalu kamu harapkan, kamu ratapi itu adalah SUAMI saya???  Ya, dia telah menikah, kami saling mencintai, kami telah memiliki seorang anak. Dan kami hidup di masa sekarang juga untuk masa depan. Tolong... Bisakah kamu berubah Rin?

Dini Hari di Bar

Aku mabuk berat.  Dasar cewek matre!! Berani-beraninya dia meninggalkanku setelah semua hartaku ia kuras. Kurang asem!! Rupanya dapat mangsa baru dia. Masih belum pagi, aku masih sanggup beberapa shot tequila lagi untuk melupakan ia yang baru saja memutuskanku demi jutawan tua, botak, dan jelek itu. Betapa sialnya aku!  Ah, tapi aku harus move on! Buat apa terus memikirkan cewek matre itu! Sekejap ide brilliant untuk move on itu muncul tatkala aku melihat seorang wanita sungguh cantik dengan pakaian yang sungguh menggoda duduk sendiri di pojok sana, mungkin bisa jadi pengobat lukaku. "Mau tambah lagi minumnya? Aku yang traktir!" Sapaku, mencoba seramah mungkin. "Oh ya? Boleh. Margaritanya satu lagi Mas Bartender!"   Oh Tuhan, sungguh dia benar-benar cantik, kemana saja aku selama ini! "Sering nongkrong di sini juga? Kok saya baru lihat kamu di sini." "Iya, baru kali ini, biasanya saya lebih suka di Red Line, Mas!" "...

Masih Ada

Para penonton itu bersorak sorai. Gegap gempita aku dengar dari teriakan-teriakan mereka. "Ayooo Rocky!! Ayo cepat, kamu bisa!!!" "Terus Lucky... Jangan mau kalah sama Rocky, kamu harusnya lebih beruntung dari dia!! Jangan lambat!" "Hap... hap! tinggal sedikit lagi sampai garis finish Rocky!! Ayooooo! Kamu lah yang terhebat Rocky!" Mereka menyemangati kami, aku dan temanku Lucky yang tak seberuntung namanya, berada dalam perlombaan yang tak kami mau. Mereka terus bersorak, bertepuk-tepuk tangan menyemangati kami, kudengar mereka pun bertaruh banyak untuk lomba ini.  Aku melawan temanku sendiri, yang sekarang terlihat begitu letihnya, begitu sakitnya, sungguh aku tak tega melihatnya. Pula aku tak tega berlomba untuk taruhan sinting ini. Oh, maafkan temanmu ini Lucky. Tapi jika aku kalah, aku lah yang akan mati. Tak punya hati kah mereka? Tak adakah seseorang di sini yang masih mempunyai hati nurani? Jarak yang kami tempuh begitu panjangnya...

Pantang Menyerah!

Pak Rukyat terdakwa korupsi itu ingin naik banding dari pengadilan tinggi. Ia masih tak terima hukuman seumur hidup yang dijatuhkan hakim dalam sidangnya yang ke-23, meski sudah banyak bukti-bukti korupsi dan suap yang ia lakukan di sebuah kementerian tempat ia menjabat. Ia menyangkal semua bukti, memperdaya para juri yang hadir. Berkoar-koar ia bahwa ia dijebak, bahwa ini hanyalah konspirasi untuk menjatuhkannya. Ia berhasil mengajukan kasasi. Kini ia berhadapan dengan hakim agung. Alih-alih mendapat keringanan hukuman, dalam Mahkamah Agung Pak Rukyat mendapat vonis mati. Tak ada lagi keringanan untuknya. Hari eksekusinya pun tiba. Pak Rukyat belum juga menyerah! Regu penembak telah siap, malaikat maut telah menunggu. Ia tetap berorasi, berkoar-koar bahwa ia tak bersalah. Duuaarrr!! Tembakan pun dilepaskan. Masih tak mau menyerah di penghujung ajalnya, sebelum menghembuskan nafas terakhir, Pak Rukyat berbisik : "Mati satu... tumbuh seribu!" *tettoott...

Yang Terakhir Kali

Ayah, kita mau kemana? Ke swalayan itu, Nak. Ayah mau belikan kamu baju yang bagus. Benar, Yah? Itu kan swalayan besar Yah, pasti mahal-mahal. Iya, Nak. Gak apa-apa. Asyiikk!! Ayah, aku mau baju yang seperti Princess itu ya, Yah! Apa saja yang kamu suka, ayah belikan, Nak. Aku juga mau sepatu bagus seperti yang dipakai teman-temanku, Yah! Iya, Asyikk, Ayah lagi banyak uang ya? Kok tumben aku mau dibelikan barang-barang bagus? Iya, Nak. Kamu boleh pilih yang kamu suka. Makasih ya Ayah, aku sayang Ayah.  Air mataku tak hentinya berlinang, itu adalah terakhir kalinya aku melihat Tiana, sebelum akhirnya sedan hitam itu membawanya, meronta-ronta, berteriak-teriak memanggil namaku. Terakhir kali aku melihatnya, sebelum ku jual ia, kepada keluarga kaya. *gegara kebanyakan nonton Law & Order SVU*